Rabu, 28 Januari 2015

3 Jam untuk 10 Menit

2 komentar

Man Shobaro Zafiro, Barangsiapa yang bersabar dia akan beruntung. Selalu kata – kata itu aku pegang. Sabar, ya sabar.

Apakah sabar itu ada batasnya?
Waktu itu hari jumat, dimana memang aku tidak ada agenda apapun. *tring, telolet-lolet*(anggap suara panggilan dari HP), seketika cepat – cepat aku angkat karena itu dari ayahku.

“Assalamu’alaikum, Hallo. Pripun pak? (Gimana pak?)
“Na, koe nggo leptope bapak wae, mengko bapak tak nggo laptope ibuk” (Na, kamu pakai laptop bapak saja, biar bapak pakai laptop ibu”“Oh, nggih pak” (Iya pak). 
Ya, aku memang mengajukan proposal untuk ganti laptop, karena si Cece mungkin sudah lelah menemaniku selama 5 tahun, mungkin dia harus pensiun. Hiks. Sebenarnya aku nggak mau ngrepotin bapak untuk mengganti laptopku, tapi keadaan memaksa demikian karena memang si Cece sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi.

“Tapi bapak ra iso ngeterke nang jogja, Sesuk pakdhe arep silaturahim nang ngomah. Chusna iso balek ora?” (tapi bapak nggak bisa nganter ke jogja, besok pakdhe mau silaturahim ke rumah. Chusna bisa pulang nggak?” Tanya bapak.
“Dek na mboten saged wangsul pak, ngenjang senin ujian. Tugase dereng rampung. Mangkih nak wangsul malah mboten saged nggarap tugas.”Lha Mbak Ufi wonten ndalem mboten? Balek jogja kapan?
“Isih nang ngomah, balek jogja mengko” Jawab Bapak
“Nggih sampun, titipke mbak ufi mawon pripun pak?”

Singkat cerita barang itu dititikan ke mbakku, dan kita janjian sore itu. Tapi karena aku menunggu tukang yang mau membenarkan wifi di asrama dan tidak datang – datang akhirnya aku ketiduran. Kakakku tidak memberikan kabar apakah kita jadi ketemu atau tidak,

Jam 14.45
Mbak jadi hari ini atau besok aja? Aku mengirim pesan WA ke kakakku.
Ya terserah, kalau sekarang aku ke tempatmu (kampus)

Saat itu rasanya aku enggan untuk ke kampus hanya untuk mengambil laptop, karena jarak asrama dengan kampus yang jauh dan aku harus naik kendaraan umum ke sana membuatku malas. Sebenarnya aku benegosiasi dengan kakakku untuk mengantarkan sabtu saja, seklaian aku mengerjakan tugas di kampus. Tapi kakakku nggak mau karena katanya berat tasnya.Yasudah akhirnya dengan berat hati aku ke kamous karena aku memang yang membutuhkannya dan memang aku yang titp. Setetlah sholat ashar aku bersiap – siap, kemudian berjalan ke jalan raya dan menunggu bus D* datang, pukul 15.00

30 menit aku menunggu....

Hmm, apa aku naik trans aja ya, daripada nunggu yang nggak pasti”. Itu pikirku
Karena memang bus D* kalau sore hari sudah langka, 5 menit aku menunggu lagi. Yasudah aku memutuskan berjalan ke shelter trans jogja. Setelah aku membayar, dan menunggu. Eh, bus D* lewat... Rasanya Nyesek -_-
Di terima saja karena memang itu pilihanku, akhirnya bis pun datang. Karena menggunakan trans Jogja aku harus transit di condong catur dan menunggu bus jalur 2B atau IB.

Finally... sampai kampus jam 16. 30.
Perjalanan 1,5 jam, dan itu melelahkan. Aku mengirim pesan ke kakakku kalau aku sudah menunggu.
20 menit kemudian.....
Berdiri sendiri menunggu 20 menit, akhirnya kakakku datang bersama temannya. Hanya 10 menit kami berbincang dan kakakku pergi.
Oke, akupun memutuskan untuk pulang. Karena sore hari sudah tidak ada bus D* aku naik trans, Alhamdulillah langsung dapat bus. Sampai di Condong catur, bus menuju asramaku baru saja berangkat, oke aku harus menunggu lagi.

30 menit aku menunggu.....

Semakin banyak orang yang datang, shelter sesak dengan orang. Benar – benar sesak. Bus 3B datang, semua orang berebut dan berdesak – desakkan masuk ke dalam bus yang sebelumnya sudah penuh muatannya. Allah.... melihat itu ngeri, sampai – sampai ada yang hampir jatuh. 

30 menit kemudian dan hujan deras.........

Suasana yang sempurna, Semakin banyak orang yang menunggu di shelter, suasananya sudah tidak bersahabat lagi karena orang – orang mulai lelah menunggu dan hawa disana mulai memanas. Jadi di shleter itu terdapat 2 pintu, pintu keluar dan masuk, karena penuh sesak atau seperti apa. Petugas itu memasukkan orang lewat pintu keluar, otomatis orang – orang yang sudah menunggu di depan pintu masuk marah – marah dan sempat memaki – maki petugasnya. Ya aku tahu rasanya bagaimana, semua orang ingin cepat – cepat pulang, dan semua orang sudah lelah menunggu termasuk aku.
Bus #B datang lagi, sudah siap antri dengan berpuluh – puluh orang, akhirnya tetap tidak muat dan aku menuggu lagi. Mungkin memang belum rezekiku. 
Di situ aku duduk di samping ibu – ibu, yang akan mengantarkan bunga di daerah JIH, karena beliau tidak bisa naik ke bus akhirnya beliau kembali ke rumahnya dan tidak jadi mengantar bunga itu karena sudah kamalaman. Ah, mungkin belum rezeki ibuknya juga.

30 menit kemudian......

Tepat 18.30 bus itu datang, Alhamdulillah aku bisa masuk walaupun harus bergelantungan di dalam bus. Rasanya sore itu udah capek dan nyesek banget. 3 jam perjalanan hanya untuk waktu 10 menit. Ya demi barang yang sudah aku titipkan ke kakaku, demi kakaku yang sudah membawakan dari rumah, karena aku tahu aku sudah merepotkan dirinya.

Karena waktu sholat maghrib mepet 18.40, aku langsung menuju masjid. Selepas sholat, entah kenapa aku meluapkan semua yang aku rasakan sore ini dan air mataku menyaingi derasnya hujan di luar, rasanya itu  sesak. Melelahkan menunggu itu. Tapi dari itu aku belajar sabar, sabar, dan sabar. Mungkin ini salah satu ujian dari Allah pikirku, masih dalam keadaan mata sembab aku menerobos hujan menuju asramaku. 

Man Shobaro Zafiro salah satu penguatku untuk bersabar. Bersabar dalam segala situasi dan keadaan karena setiap jengkal langkah di dunia ini harus dilandasi dengan kesabaran.


                                                                                                Lab Bk 06012015
 

lumières étoiles Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template