Tidak terasa tinggal 3 bulan di
Rumah Cahaya ini. Ya, Rumah Cahaya biasa kami menyebutnya, karena kami berharap
kami seperti cahaya yang kelak kami akan menjadi pelita dalam kegelapan, itu
artinya kami akan menebarkan kebaikan dan manfaat untuk orang lain. Rasanya,
nano – nano di Rumah ini, apalagi bila megingat semester – semester lalu sebelum aku tinggal di Rumah ini.
“Dek,
Pendaftaran Asma Amanina udah di buka ni” postingan pamlflet dari kakakku di
fb. Deg, aaaaaa jadi udah buka. Seketika langsung kuingat saat sebelum aku
masuk di jenjang pendidikan tinggi ini. Aku pernah berkata bahwa aku ingin di
sana seperti kakakku, tempatnya enak, dll. Tapi setelah 4 semester aku
merasakan hiruk pikuk, suka duka bangku perkuliahan dan segala ornamennya, entah
keinginanku untuk menjadi bagian dari Rumah itu sirna. Mungkin, karena aku
terlalu asyik dan sudah terlalu nyaman dengan keadaan dan lingkungan di kampus
maupun kos. Ya, aku tau itu bukanlah keadaan yang baik dari segi (agama), ya
taulah gimana sih anak kos, anak organisasi yang memang tidak berembel – embel
agama. Bebas, tapi aku termasuk anak alim di kebebasan dunia Jogja. Hehe. Ya
sealim aku saat itu tetep pulang rapat jam 11, 10, berkelana kesana kemari sama
temen – temen dan berbagai aktivitas lain sebagai mahasiswa. Entah kenapa saat
itu aku nyaman dengan keadaanku yang seperti itu.
Masih dalam
keadaan bimbang. “Hmm, aku bingung mbak, aku kan masih ada tanggungan
organisasi” begitulah alibiku. Jujur pada saat itu aku tak tahu harus
bagaimana, organisasi yang menuntut rapat sampai malam, tugas akademik yang
menumpuk, dll. Karena itu, aku sampai ingin memutuskan untuk tidak menjadi
bagian dari rumah itu sampai akhirnya aku pulang dan curhat dengan ibuku, dan
ternyata jawaban ibuku itulah yang mengetuk pintu hatiku untuk sekedar “mencoba
peruntungan” pikiranku saat itu, Ibuku mengatakan yang intinya kamu dulu udah
pengen kesitu, sekarang udah saatnya malah gak mantep gitu, itu namanya kamu
lagi diuji, digoda keimannannya sama syetan. Astaghfirullah, dalam hatiku. Yang
bikin jleb lagi, saat aku mengajukan argumen tentang organisasi dsb, ibuku
berkata “hidup tu nggak cuma dunia aja yang dipikirin, dunia itu nggak ada apa
– apanya di bandingkan di akhirat besok” jleeeb banget. Akhirnya dari kata
ibuku, dari aku bemunajat lewat doa” yang lantunkan di sepertiga malam
terakhir, akupun mendaftar ke Rumah itu Gelombang 1 terakhir. Pikiranku saat
itu, kalau aku memang baiknya hijrah ke rumah itu maka aku akan diterima, kalau
aku baiknya disini maka, Allah juga pasti akan menunjukkan.
Beberapa minggu
kemudian......................
“Dek selamat ya, kamu diterima”
Pesan Singkat dari Kakakku. Cuma
speechless saat itu, ya berarti itu yang terbaik untukku, masih dengan hati
yang berat.
Daurah 1 Asma...
| Rihah (Nglanggeran) |
Aku melihat
sosok – sosok yang luar biasa saat itu. Bila dibahasakan anak jaman sekarang “aku
mah apa atuh”, dengan jilbab paris tipis pendek, hafalan Al – Qur’an yang
tak seberapa, dengan pergaulan yang teman – temannya heterogen. Lengkap sudah
aku meringkuk, dan menunduk. Aku minder dengan diriku yang seperti ini. Aku tak
tahu apa – apa, NOL. Tapi entah pesan ibuku selalu aku ingat. Niatku adalah
belajar dan berproses. Berproses itu terkadang memang menyakitkan, berproses
itu aku harus jatuh bangun berkali – kali. Berproses juga aku harus
meninggalkan kenyamananku. Diawali dengan Adaptasi yang tak mudah harus aku
hadapi dan lalui. Seperti berkebalikan arah antara lingkungan kampus dengan di
rumah cahaya ini. Awalnya aku sempat kagok juga karena benar – benar
lingkungan itu berbeda. Sampai saat inipun aku masih belum bisa seutuhnya
istiqomah untuk menjalankan hal – hal sesuai syariat.
Dalam
berhijrah pasti ada perubahan, Ya Alhamdulillah karena Allah memuntunku ke
tempat yang baik. Setelah berhijrah ke Rumah Cahaya ini penampilanku mulai
berubah, yang tadinya pakai jilbab tipis dan pendek sekarang sudah aku double
agar tidak menerawang, apa artinya pakai jilbab kalau menerawang , itu sama
saja kita tidak menutup aurat kita. Selain itu, aku nggak pakai celana lagi
(red: jins) sekarang aku lebih feminim karena menggunakan rok terus, hhe. Mulai
dari sini juga aku baru menyadari bahwa kaki – kaki mungil yang sering terbuka
ini adalah aurat. Sebenarnya tau juga sih, karena aurat wanita itu kan seluruh
tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tapi kaki terkadang luput dari pemahaman
bahwa itu aurat. Berharap tetap selalu istiqomah sampai akhir hayat.
Satu
tahun telah aku lalui di Rumah Cahaya ini, dan akupun mulai beradaptasi dengan
rutinitas yang ada. Dari mulai begadang, pulang yang harus awal, piket – piket
yang harus dijalani, organisasi kampus dll bisa untuk diajak berjalan bersama
meski tidak dapat beriringan. Allah.. Takdirmu aku dapat berada di sini. Entah
apa jadinya diri ini bila Engkau tak menghendakiku untuk berada disini. Mungkin
aku sudah tercampur baur dengan hingar bingar dunia, mungkin aku tak akan dekat
dengan Al – Quran, dan kemungkinan – kemungkinan yang lainnya. Meskipun lelah,
letih dengan semua aktivitas yang ada tapi aku yakin bahwa semua ini akan
berbuah indah, bukankah sejatinya kita memang harus belelah – lelah, bukankah
di dunia ini tempat kita berjuang dan tempat peristirahatan kita adalah di
surga kelak. Asma Amanina akan menjadi bagian dari ukiran sejarah hidup yang
akan menjadi kenangan yang dirindukan kelak, seperti aku merindukan kenanganku
dulu di Pondok Pesantren Muhammadiyah Tempuran.
Bebereapa aktivitas di Rumah
Cahaya....
Teeeet...teeeet...
Aaarrghhh suara itu, suara raungan itu. Aku benci suara itu. Suara bel yang
berkali – kali dan memekikkan telinga. Waaaaa,
andaikan saat itu kamarku tidak di dekat sumber suara itu, mungkin hidupku akan
sedikit tenang. Pikirku saat itu. Tapi bel itulah yang akan menjadi kenangan.
Saksi bisu santri Asma Amanina. Bel itu juga berjasa membangunkanku di
sepertiga malam terakhir untuk merajut cinta dengan Rabbku. Bel itu juga yang
menyegerakan kita untuk pergi ke kelas dan untuk sholat berjamaah. Dan mungkin
sekarang bel itu mulai lelah, karena menunaikan tugasnya selama bertahun –
tahun, suaranya mulai tersendat dan tak senyaring dulu. Tetap bertahan ya bel
sampai aku selesai menunaikan kewajibanku menuntut ilmu di Rumah Cahaya ini.


