Jumat, 29 Januari 2016

Rumah Cahaya

Tidak terasa tinggal 3 bulan di Rumah Cahaya ini. Ya, Rumah Cahaya biasa kami menyebutnya, karena kami berharap kami seperti cahaya yang kelak kami akan menjadi pelita dalam kegelapan, itu artinya kami akan menebarkan kebaikan dan manfaat untuk orang lain. Rasanya, nano – nano di Rumah ini, apalagi bila megingat semester – semester  lalu sebelum aku tinggal di Rumah ini.


“Dek, Pendaftaran Asma Amanina udah di buka ni” postingan pamlflet dari kakakku di fb. Deg, aaaaaa jadi udah buka. Seketika langsung kuingat saat sebelum aku masuk di jenjang pendidikan tinggi ini. Aku pernah berkata bahwa aku ingin di sana seperti kakakku, tempatnya enak, dll. Tapi setelah 4 semester aku merasakan hiruk pikuk, suka duka bangku perkuliahan dan segala ornamennya, entah keinginanku untuk menjadi bagian dari Rumah itu sirna. Mungkin, karena aku terlalu asyik dan sudah terlalu nyaman dengan keadaan dan lingkungan di kampus maupun kos. Ya, aku tau itu bukanlah keadaan yang baik dari segi (agama), ya taulah gimana sih anak kos, anak organisasi yang memang tidak berembel – embel agama. Bebas, tapi aku termasuk anak alim di kebebasan dunia Jogja. Hehe. Ya sealim aku saat itu tetep pulang rapat jam 11, 10, berkelana kesana kemari sama temen – temen dan berbagai aktivitas lain sebagai mahasiswa. Entah kenapa saat itu aku nyaman dengan keadaanku yang seperti itu.
Masih dalam keadaan bimbang. “Hmm, aku bingung mbak, aku kan masih ada tanggungan organisasi” begitulah alibiku. Jujur pada saat itu aku tak tahu harus bagaimana, organisasi yang menuntut rapat sampai malam, tugas akademik yang menumpuk, dll. Karena itu, aku sampai ingin memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari rumah itu sampai akhirnya aku pulang dan curhat dengan ibuku, dan ternyata jawaban ibuku itulah yang mengetuk pintu hatiku untuk sekedar “mencoba peruntungan” pikiranku saat itu, Ibuku mengatakan yang intinya kamu dulu udah pengen kesitu, sekarang udah saatnya malah gak mantep gitu, itu namanya kamu lagi diuji, digoda keimannannya sama syetan. Astaghfirullah, dalam hatiku. Yang bikin jleb lagi, saat aku mengajukan argumen tentang organisasi dsb, ibuku berkata “hidup tu nggak cuma dunia aja yang dipikirin, dunia itu nggak ada apa – apanya di bandingkan di akhirat besok” jleeeb banget. Akhirnya dari kata ibuku, dari aku bemunajat lewat doa” yang lantunkan di sepertiga malam terakhir, akupun mendaftar ke Rumah itu Gelombang 1 terakhir. Pikiranku saat itu, kalau aku memang baiknya hijrah ke rumah itu maka aku akan diterima, kalau aku baiknya disini maka, Allah juga pasti akan menunjukkan.
Beberapa minggu kemudian......................
“Dek selamat ya, kamu diterima” Pesan Singkat dari Kakakku.  Cuma speechless saat itu, ya berarti itu yang terbaik untukku, masih dengan hati yang berat.
Daurah 1 Asma...
Rihah (Nglanggeran)
Aku melihat sosok – sosok yang luar biasa saat itu. Bila dibahasakan anak jaman sekarang “aku mah apa atuh”, dengan jilbab paris tipis pendek, hafalan Al – Qur’an yang tak seberapa, dengan pergaulan yang teman – temannya heterogen. Lengkap sudah aku meringkuk, dan menunduk. Aku minder dengan diriku yang seperti ini. Aku tak tahu apa – apa, NOL. Tapi entah pesan ibuku selalu aku ingat. Niatku adalah belajar dan berproses. Berproses itu terkadang memang menyakitkan, berproses itu aku harus jatuh bangun berkali – kali. Berproses juga aku harus meninggalkan kenyamananku. Diawali dengan Adaptasi yang tak mudah harus aku hadapi dan lalui. Seperti berkebalikan arah antara lingkungan kampus dengan di rumah cahaya ini. Awalnya aku sempat kagok juga karena benar – benar lingkungan itu berbeda. Sampai saat inipun aku masih belum bisa seutuhnya istiqomah untuk menjalankan hal – hal sesuai syariat.
Dalam berhijrah pasti ada perubahan, Ya Alhamdulillah karena Allah memuntunku ke tempat yang baik. Setelah berhijrah ke Rumah Cahaya ini penampilanku mulai berubah, yang tadinya pakai jilbab tipis dan pendek sekarang sudah aku double agar tidak menerawang, apa artinya pakai jilbab kalau menerawang , itu sama saja kita tidak menutup aurat kita. Selain itu, aku nggak pakai celana lagi (red: jins) sekarang aku lebih feminim karena menggunakan rok terus, hhe. Mulai dari sini juga aku baru menyadari bahwa kaki – kaki mungil yang sering terbuka ini adalah aurat. Sebenarnya tau juga sih, karena aurat wanita itu kan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, tapi kaki terkadang luput dari pemahaman bahwa itu aurat. Berharap tetap selalu istiqomah sampai akhir hayat.
                Satu tahun telah aku lalui di Rumah Cahaya ini, dan akupun mulai beradaptasi dengan rutinitas yang ada. Dari mulai begadang, pulang yang harus awal, piket – piket yang harus dijalani, organisasi kampus dll bisa untuk diajak berjalan bersama meski tidak dapat beriringan. Allah.. Takdirmu aku dapat berada di sini. Entah apa jadinya diri ini bila Engkau tak menghendakiku untuk berada disini. Mungkin aku sudah tercampur baur dengan hingar bingar dunia, mungkin aku tak akan dekat dengan Al – Quran, dan kemungkinan – kemungkinan yang lainnya. Meskipun lelah, letih dengan semua aktivitas yang ada tapi aku yakin bahwa semua ini akan berbuah indah, bukankah sejatinya kita memang harus belelah – lelah, bukankah di dunia ini tempat kita berjuang dan tempat peristirahatan kita adalah di surga kelak. Asma Amanina akan menjadi bagian dari ukiran sejarah hidup yang akan menjadi kenangan yang dirindukan kelak, seperti aku merindukan kenanganku dulu di Pondok Pesantren Muhammadiyah Tempuran.
Bebereapa aktivitas di Rumah Cahaya....

Teeeet...teeeet... Aaarrghhh suara itu, suara raungan itu. Aku benci suara itu. Suara bel yang berkali – kali dan memekikkan telinga.  Waaaaa, andaikan saat itu kamarku tidak di dekat sumber suara itu, mungkin hidupku akan sedikit tenang. Pikirku saat itu. Tapi bel itulah yang akan menjadi kenangan. Saksi bisu santri Asma Amanina. Bel itu juga berjasa membangunkanku di sepertiga malam terakhir untuk merajut cinta dengan Rabbku. Bel itu juga yang menyegerakan kita untuk pergi ke kelas dan untuk sholat berjamaah. Dan mungkin sekarang bel itu mulai lelah, karena menunaikan tugasnya selama bertahun – tahun, suaranya mulai tersendat dan tak senyaring dulu. Tetap bertahan ya bel sampai aku selesai menunaikan kewajibanku menuntut ilmu di Rumah Cahaya ini.
Tentang kelas. Kelas yang multifungsi sebagai tempat sholat tak kalah membubuhkan banyak kenangan di dalamnya.Perasaan bersalah pada para asatidz/ah ketika kelopak mata – mata ini bak besi 50 kg tak sanggup lagi terbuka. Dan secara otomatis terbuka ketika kelas usai. Huaaa. Itu sangat menyedihkan. Padahal para astidz/ah telah merelakan waktunya untuk menyampaikan ilmu – ilmunya. Maafkan diri ini Ya Allah.. Lucunya ada juga santri yang bawa semprotan, jadi kalau sewaktu – waktu kalau ngantu matanya disemprot. Ahahaha. Pemandupun tidak lelah membangunkan saat kami tertidur, tapi tetap saja melek 5 detik kemudian tidur lagi. Hmm, sulit memang yaa kalau ngantuk mulai datang. #KelasdanKantuk
Tentang suasana. Lantunan ayat – ayat suci al – Quran bersahutan dan menggema di Rumah cahaya ini. Terasa sejuk dan menenangkan jiwa ketika santri – santri dengan khidmatnya membaca kalam – kalam Illahi, mungkin suasana i i tak aku temukan di kosku dulu. Di Rumah Cahaya ini juga aku belajar artinya toleransi, hidup bertetangga dan berumah tangga. Hah? Berumah tangga?? Iyaa, kita berpasangan satu kamar, dan kamar itu ibarat sebuah rumah tangga yaa sering ada konflik, canda, tawa, bahagia. Aku belajar banyak tentang semua itu, dimana dua karakter yang berbeda si jadikan satu. Bagaimana cara kita membuat rumah tangga itu sakinah, ada yang ngedate berdua dengan teman sekamarnya, hafalan bersama dsb. Tapi dibalik keromantisan ada juga rumah tangga yang berseteru, tak pernah pulang ke kamar, merasa tidak cocok, tidak nyaman. Yaah miniatur rumah tangga banget laah. Hhe.
                Rumah Cahaya begitu banyak kenangan terekam disini, banyak suprise yang tak terduga di ruah ini. Perjalanan rihlah kita yang saat itu di Nglanggeran, yaa perjalanan yang Indah dengan lantunan ayat – ayat al – Quran di sepanjang petjalanannanya. Class meeting, kegiatan setelah ujian semesteran di asma. Kita akhwat – akhwat tangguh berlaga di sini dari mulai lomba balap karung, basket, sampai futsal pernah kita alami dan semuanya pakai rok. Hha. Belum lagi aktivits piket, yang memaksa kita menjadi wanita seutuhnya, dari menyapu, membuang sampah, membereskan jemuran, ngepel, dll belum lagi piket masak, yang mana harus masain 50 orang. Awal piket sampai 4 jam mungkin di dapur, karena harus masak ukuran partai besar,  dan itu blm terbiasa. Hhe. Gak papalah sembari belajar untuk buka catering besok :D
Yaaah, Semoga bisa istiqomah sampai akhir perjalananku di sini... di Rumah Cahaya.


Jadikanlah peristiwa –peristiwa dalam hidupmu sebagai ukiran sejarah kehidupan yang akan terus di kenang, entah itu pahit ataupun manis. Sejarah itu bisa menjadikan pelajaran dalam hidupmu agar terus berproses menjadi seseorang yang jauh lebih baik. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

lumières étoiles Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template