Jumat, 04 Maret 2016

Promise? Loyality? Love? Or....

Rumah Cahaya, 15 Februari 2015

Di lingkaran itu, selepas matahari tak menampakkan sinarnya lagi. Kami berlima tak sabar mendiskusikan tema yang akan disampaikan musyrifahku. Tema kali ini di buka dengan sebuah pertanyaan.....
  • Apa yang membuat kakek – kakek bertahan dengan istrinya sampai akhir hayatnya? Bahkan mungkin ia tidak menikah lagi?
  • Ada pasangan suami istri, mereka baru satu minggu menikah. Tidak di sangka – sangka mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan sang istri kehilangan penglihatannya, ia mengalami buta total. Yaa sang istri sangatlah sedih, namun ia bangkit kembali di tengah keterbatasannya ia tetap ingin bekerja. Awalnya sang suami senantiasa mengantarkannya sampai di tempat kerja, setiap hari seperti itu. Namun pada suatu hari sang suami berkata kepada istrinya “ Sayang, maaf aku tidak bisa mengantarkanmu sampai ke tempat kerja lagi. Aku hanya bisa mengantarkanmu sampai halte bis saja.” Mendengar hal tersebut sang istripun kecewa dan sedih, kenapa suaminya setega itu membiarkannya pergi sendirian. Akhirnya setiap hari sang suami mengantarkan istri tersebut ke halte, dan dengan meraba – raba sang istri dapat naik sendiri ke bus tersebut. Pada suatu ketika Sang sopir bus yang tiap hari mengantarkan wanita tersebut berkata “Wah, anda beruntung sekali mempunyai seorang suami seperti dia”, kemudian wanita tersebut menjawab, “ beruntung bagaimana aku sangat sedih, dia tidak mau mengantarkanku sampai ke tempat kerjaku, dan membiarkanku pergi sendirian.” Sopir; “anda salah, setiap kali mengantarkan anda, suami anda selalu menunggui anda dia selalu cemas dan takut apakah anda berhasil naik bis ini atau tidak, dan selalu memastikan anda baik – baik saja. Setiap kali anda berhasil naik, suami anda selalu melompat kegirangan, begitu setiap harinya.”
         Apa yang membuat sang suami tersebut tetap setia dengan sang istri yang buta?     Padahal mereka baru seminggu menikah, dan bisa saja sang suami menikah lagi dengan wanita yang lebih sempurna?
  • Ada pula pasangan suami istri, aku kenal tentunya. Mereka belum dikarunia anak. Mungkin umur mereka sudah mendekati 50 tahun, tapi mereka tetap setia untuk bersama. Tidak ada yang menikah lagi, atau bahkan bercerai. Dan mereka sekarang malah mempunyai banyak sekali anak. Yaa mereka mendirikan panti asuhan, yang sekarang cabangnya sudah dimana – mana. Jadi apa yang membuat mereka tetap bersama walaupun tidak dikaruniai anak?

Dan ini ada tambahan cerita dariku tentunya......
Cerita ini pernah diceritakan oleh dosenku, dan aku sangat, sangat terkesan dengan tokoh yang diceritakan tersebut. Akhirnya kemarin aku mendapatkan cerita itu lagi di WA, dan aku tak bosan – bosannya membacanya dan selalu  terharu dengan cerita itu. Sempat berfikir masih adakah lelaki seperti itu?? Dan inilah ceritanya, saya tulis ulang lagi yang mana sekaligus bisa menjawab pertanyaan dari cerita di atas.

Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 tahun. Posted on March 20, 2015.


Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku – buku investasi da keuangan. Dialah salah seoarang tokoh di balik kemajan industri reksadana di Indonesia yang sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negri ini. Ia tergolong miliader.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa. Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak. Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak ke 4. Tiba – tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal tersebut terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke 3 tubuhnya menjadi lema, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya terlihat senyum. Untunglah kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang. Sorenya ada jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton tv sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno kurang lebih 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak – anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.
Pada suatu hari, saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya, karena setelah anak – anak mereka menikah, mereka tinggal bersama keluarga masing – masing. Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat Ibu mereka karena yang diinginkan hanya satu: semua anaknya dapat berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati – hati, si anak sulung berkata: “Pak kami ingin sekali merawat Ibu, semenjak kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan Bapak tidak mengizinkan kami menjaga Ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang. “Sudah ke 4 kalinya kami mengizinkan bapak menikah lagi, kami rasa Ibu pun akan mengizinkannya. Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat Bapak, kami berjanji akan merawat Ibu sebaik – baiknya secara bergantian, “ tambah si sulung melanjutkan permohonannya.
“Anak – anakku, Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk  nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya Ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian,” Sejenak kerongkongannya tercekat. “Kalian yang sangat kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaannya seperti sekarang? Kalian menginginkan Bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan Ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak – anaknya.
Pak Suyatno bercerita: Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia – siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan sepenuh hati dan batinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu – lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika sehatpun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya semberi berurai air mata.
Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah, saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah.

MasyaAllah... Nah itulah guys cerita dari Pak Suyatno, Seorang suami yang sangat luar biasa, siapa coba yang gk pengen punya suami yang akhlaknya seperti Pak Suyatno, sangat – sangat memuliakan istrinya. Semoga Pak Suyatno selalu diberikan kekuatan, kesabaran dan kesehatan yaaa. Dan semoga kelak dapat berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya, di JannahNya. Aamiin :’)

Okeee, jadi apa jawaban dari pertanyaan – pertanyaan di atas? Yups, KOMITMEN.  Nahh, bila kita review ulang tentang kisah – kisah tadi, untuk menguatkan komitmen kita harus punya tujuan. Sebenarnya kita menikah untuk apa? Tujuannya apa? Eh, eh sebentar. Kitaaa??? Aku belum termasuk nih, ya semoga sebentar lagi termasuk hhhe. Nah itu, tujuan. Harus tentukan tujuan guys, visi, misi kedepannya apa. Wiih keren kan, kayak bikin proposal pengajuan kegiatan gitu hhe. Apakah tujuannya hanya sekedar memuaskan hasrat biologis, atau tujuannya untuk melanjutkan keturunan saja, atau apa. Yaaa ingatlah, segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Menurutku tujuan menikah itu bersama – sama untuk dapat menggapai JannahNya. Perjalanan dalam sebuah biduk rumah tangga itu tidak selamanya lurus, pasti akan ada kerikil – kerikil, batu yang akan menjadi bumbu – bumbu dalam pernikahan. Yaa ibaratnya seperti kita naik bis, kadang macet, dan kadang ada juga hambatan – hambatan lain, itu diibaratkan ujian apakah kita bisa melewatinya atau menyerah begitu saja sebelum sampai ketujuan. Ingat bahwa; "Surga itu dilingkari dengan hal - hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka itu dilingkari dengan segala hal yang menyenangkan" (H.R Muslim dan Tirmidzi)

    Bila merujuk pada Buku Jalan Cinta Para Pejuang, (Fillah, 2012: 35) bahwa Pada tahun1988, Robert J. Stenberg mempublikasikan teorinya yang terkenal hingga kini, A Triangular Theory of Love, Sebuah teori segitiga cinta. Segitiga cinta Stenberg itu mengandung komponen:
  1.        Keintiman (Intimacy)
  2.       Gairah (Passion)
  3.      Komitmen (Commitment)

     Jika ketiga unsur menyusun sempurna, Steneberg menyebutnya consummate love. Sebaliknya sebuah hubungan yang tidak memiliki ketiganya adalah non-love. Jika akrab tanpa memiliki gairah disebul liking. Jika bergairah saja disebut love at the first sight. Sementara empty love adalah istilah Stenberg untuk cinta sepenuhnya berupa komitmen, tanpa gairah, tanpa keintiman. Gairah dan keintiman tidak melahirkan hubungan jangka panjang, sedangkan komitmenlah yang melahirka hubungan jangka panjang. Sudut kunci dalam segitiga Stenberg. Membangun Komitmen. Komitmen adalah ikrar kerelaan berkorban; memberi bukan meminta; berinisiatif tanpa meunggu; memahami bukan menuntut. Komitmen adalah ikatan kesetiaan.

       Nah demikian guys, tentang komitmen bahwa komitmen itu adalah kesetiaan, komitmen apapun yang terjadi ya tetap teguh pada apa yang sudah di pegang, gk mood – moodan. Hhe begitu juga cinta kita kepada Allah, harus berkomitmen sesuai dengan syahadat yang telah kita ucapkan. Buktikan komitmen itu dengan selalu taat beribadah kepadaNya.. J Semoga selalu kita pegang erat Cinta kita kepada Allah dan Rasulullah......


"Cinta Bukan Hanya Sebuah Perasaan, Namun Cinta adalah Komitmen dan Pengorbanan"




0 komentar:

Posting Komentar

 

lumières étoiles Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template